- Sejumlah operator SPBU di Jabodetabek menurunkan harga Pertamax sebesar Rp300 per liter pada 1 Agustus 2026.
- Pengendara di wilayah Bogor dan Bekasi mengeluhkan penurunan harga tersebut karena dinilai terlalu kecil dan tidak sebanding.
- Masyarakat tetap terpaksa membeli Pertamax demi kesehatan mesin kendaraan meskipun merasa tidak puas dengan kebijakan tersebut.
SuaraBogor.id - Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 Agustus 2026 yang diterapkan sejumlah operator SPBU di wilayah Jabodetabek memicu beragam respons dari masyarakat.
Sorotan utama tertuju pada harga BBM jenis Pertamax yang mengalami penurunan tipis sebesar Rp300 per liter dari Rp16.250 menjadi Rp15.950.
Sayangnya, pemotongan harga ini dinilai tak sebanding dengan lonjakan kenaikan harga sebelumnya.
Sejumlah pengendara, termasuk warga yang hendak berwisata ke kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, mengaku penurunan tersebut tidak memberi dampak berarti bagi pengeluaran mereka.
Baca Juga:Bus Listrik Bogor Siap Layani Rute Wisata: Sambungkan Pakansari, Margo City Hingga Puncak
"Duh, kurang berasa banget, terlalu kecil. Padahal kemarin naiknya gede banget dari 12 ribu ke 16 ribu," keluh Muhammad Rijal (30), warga Cibinong saat ditemui di SPBU KS Tubun, Kota Bogor, Minggu (2/8/2026).
Meski mengaku tidak puas, Rijal mengatakan diriya tetap menggunakan Pertamax karena menyesuaikan kebutuhan kendaraannya.
"Ya karena motor saya kasian, enggak cocok kalau pakai Pertalite, suka ngebrebet knalpotnya. Jadi ya mau enggak mau secara terpaksa saya harus pakai Pertamax. Kalau Pertamax kan agak bersihya bensinnya, beda dengan Pertalite,” ujarnya.
Menurut dia, kebijakan penurunan harga tersebut juga belum mencerminkan keberpihakan kepada masyarakat.
"Ya jelas enggak lah, ini tuh kayak kebijakan yang kurang merakyat. Realistis aja, 300 perak mana kerasa sih penurunan segitu,” cetusnya.
Baca Juga:Digerebek Tanpa Busana di Kontrakan, 3 Pria Diduga Pesta Gay di Citeureup Diarak Warga
Senada dengan Rijal, Dika (28), warga Parung, mempertanyakan alasan penurunan harga yang hanya Rp300 per liter.
"Sebenernya kenapa sih dituruninnya cuman 300 perak? Kan naiknya yang kemarin sangat besar hingga ribuan, nah kenapa dituruninnya cuman 300,” ujarnya.
“Pengennya sih balik lagi ke harga kemarin, ke 12 ribu. Cuman kan balik lagi ke kebijakan pemerintahnya gimana,” kata dia.
Sebab, ia menilai penurunan harga kali ini belum cukup signifikan.
"Kalau dilihat dari penurunannya sama sekali ga berpihak pada masyarakat, cuman kok kenapa angka turunnya itu kecil gitu kan, itu aja sih,” kata Dika.
Hal serupa disampaikan Agus (24), warga Bekasi, yang hendak menuju Kopi Daong dikawasan Kota Bogor.