Kerugian awal TNGHS akibat kerusakan konservasi, termasuk PETI dan wisata ilegal, mencapai Rp350 miliar di areal 439 hektare, diprediksi akan bertambah.
Operasi penertiban telah menutup 281 dari target 1.400 lubang PETI di TNGHS (Sukabumi, Bogor, Lebak), dengan pemeriksaan terhadap pemodal ilegal.
Kementerian dan Satgas PKH menertibkan PETI TNGHS yang telah merusak sejak 1990-an, kerusakan lingkungan dan potensi bencana alam perlu dihentikan.
SuaraBogor.id - Bagi para pendaki dan pecinta alam, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah surga. Hutan hujan tropis yang membentang di Jawa Barat dan Banten ini dijuluki sebagai paru-paru yang menyuplai oksigen segar bagi wilayah sekitarnya. Namun, siapa sangka di balik rimbunnya pepohonan, tersimpan luka menganga yang mengerikan akibat keserakahan manusia.
Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masif telah mengubah wajah konservasi menjadi zona bencana. Kementerian Kehutanan baru-baru ini membongkar fakta bahwa kerugian negara akibat praktik ilegal ini mencapai angka fantastis.
Berikut adalah 3 fakta mengejutkan terkait kerusakan TNGHS yang wajib kamu ketahui:
1. Kerugian Negara Tembus Rp350 Miliar (dan Masih Bisa Naik!)
Fakta pertama yang bikin geleng-geleng kepala adalah nilai kerugiannya. Berdasarkan pengukuran dan penertiban pada areal seluas 439 hektare yang telah luluh lantak, taksiran kerugian negara mencapai Rp350 miliar.
Angka ini bukan final. Direktur Penindakan Pidana Kehutanan, Rudianto Saragih Napitu, menegaskan bahwa nilai tersebut hanyalah permulaan.
Kerugian ekologis jangka panjang yang belum dihitung oleh Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) diprediksi akan membuat angkanya membengkak jauh lebih besar.
"Kami memastikan kerugian kerusakan hutan TNGHS bisa bertambah di atas Rp350 miliar," tegas Rudianto, dilansir dari Antara, Kamis 4 Desember 2025.
2. Bukan Cuma Emas, Vila Liar Ikut Andil Merusak
Baca Juga: Alam Menangis, Negara Rugi Rp350 Miliar! Kemenhut Buru Pemodal Tambang Emas Ilegal di Gunung Salak
Ternyata, musuh hutan Halimun Salak bukan hanya para penambang emas. Gaya hidup healing yang tidak bertanggung jawab turut menyumbang kerusakan. Keberadaan vila-vila ilegal dan aktivitas wisata tak berizin di zona konservasi memperparah degradasi lahan.
"Kerusakan hutan TNGHS itu, selain penambang ilegal dan pengguna vila serta wisata," kata Rudianto.
Meski demikian, fokus utama pemerintah saat ini tetap pada monster perusak utama yakni tambang ilegal. Operasi penertiban terus digencarkan, mulai dari Blok Cibuluh, Ciheang, Gunung Pedih, hingga yang terbaru penutupan 55 titik di Blok Cirotan, Kabupaten Lebak. Total sudah 281 lubang ditutup dari target 1.400 titik.
3. 'Bumi Berongga': Lubang Menjalar Hingga 5 KM & Racun Sianida
Fakta ketiga ini terdengar seperti film horor. Ketua Komandan Satuan Tugas (Satgas) PKH Garuda, Mayjen Dody Trywinarto, mengungkapkan bahwa kerusakan struktur tanah di TNGHS sangat mengerikan. Aktivitas yang sudah berlangsung sejak tahun 1990-an ini membuat fondasi hutan lindung menjadi keropos.
Bayangkan, satu titik lubang tambang bisa memiliki kedalaman 20 meter dengan terowongan tikus yang menjalar hingga 5 kilometer jauhnya di bawah tanah! Jika ada 1.400 titik seperti itu, risiko longsor besar tinggal menunggu waktu.
Berita Terkait
-
Alam Menangis, Negara Rugi Rp350 Miliar! Kemenhut Buru Pemodal Tambang Emas Ilegal di Gunung Salak
-
411 Lubang Tambang Ilegal Ditemukan di Gunung Halimun Salak, Operasi Penindakan Makan Korban
-
Stop Panik dan Hoaks! Ribuan Warga Lereng Salak Kini Dilatih Hadapi Ancaman Sesar Cianten
-
Tragedi Maut di Tambang Emas Ilegal Cigudeg, Penambang Asal Lebak Tewas Tertimbun
-
Elang Jawa Sally Kembali ke Alam Liar, Hasil Sukses Rehabilitasi dan Konservasi
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Jalur Menuju Situs Gunung Padang Kembali Normal Usai Tertimbun Longsor
-
BRI Bagikan Total Dividen Rp52,1 Triliun, Termasuk Interim Rp137 per Saham
-
Sentil UI dan IPB, Peneliti TII Tegaskan Candaan Seksis di Grup Chat Bisa Dipidana
-
Ketua DPRD Kota Bogor Ikuti KPPD di Akmil Magelang, Siap Wujudkan Swasembada & Kemandirian Daerah
-
Siapkan Pusat Ekonomi Baru, Bupati Rudy Susmanto Dorong Jalur KRL hingga Jasinga